Home > Berita > Detail

Pentingnya Pengajaran Kesehatan Reproduksi Oleh Guru

Saat ini, isu mengenai kesehatan reproduksi remaja menjadi hangat dibicarakan. Mulai dari timbulnya kasus-kasus pelecehan seksual pada anak di bawah umur hingga pelaku pelecehan seksual yang ternyata merupakan korban di masa lalunya. Menyadari hal ini merupakan puncak gunung es, dimana masih banyak lagi kasus-kasus lainnya yang belum muncul di media dan masyarakat, berbagai lembaga peduli kesehatan reproduksi remaja melakukan bermacam upaya untuk mencari cara penanganannya.

Sebenarnya, upaya kesehatan reproduksi ini telah diatur dalam Undang-Undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dimana pasal 73 ayat 3 diamanatkan bahwa kesehatan reproduksi dilaksanakan melalui kegiatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Dijelaskan juga pada pasal 72 bahwa setiap orang (remaja) berhak untuk memperoleh informasi, edukasi, dan konseling mengenai kesehatan reproduksi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Republik Indonesia (Perpres) No 7 Tahun 2005 tentang  Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2005 - 2009, menyatakan bahwa salah satu arah RPJM adalah meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi remaja dimana Perpres tersebut merupakan implementasi dari kesepakatan dokumen rencana aksi Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) tahun 1994 yang ditandatangani oleh 178 negara termasuk Indonesia. Dokumen tersebut mewajibkan kepada Negara untuk mengakui  dan memenuhi hak-hak reproduksi dan seksual remaja.

Berdasarkan hal tersebut, pendidikan kesehatan reproduksi remaja perlu diupayakan dengan memaksimalkan peran guru sebagai upaya promotif dan preventif terhadap isu kesehatan reproduksi remaja yang kini tengah berkembang bebas. Adapun empat tujuan terpenting pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja ialah remaja memahami perubahan fisik yang terjadi, remaja memahami alat, sistem, dan proses reproduksi, remaja menyadari perlunya kesiapan diri untuk melakukan reproduksi, remaja memahami mengapa remaja perlu menerapkan perilaku seksual yang bertanggungjawab, seperti yang disampaikan oleh Drs. Sulistyo, MPd, Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dalam Seminar Kesehatan Reproduksi Remaja yang dilaksanakan oleh PU ATKIB dan BKKBN pada tanggal 9 Agustus 2014 lalu di Kampus UI Depok.  Tentu saja dalam upaya penyampaian pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja, perlu dirancang suatu pendekatan dan strategi agar tujuan dapat terpenuhi. Selain itu, sekolah perlu menyadari peranannya untuk memfasilitasi upaya tersebut, seperti menegakkan peraturan dan tata tertib sekolah, memberi pengetahuan tambahan mengenai Infeksi Menular Seksual (IMS), menyediakan ekstrakurikuler atau wadah kesiswaan khususnya yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi remaja untuk mengisi waktu luang siswa dengan bermanfaat, serta menghimbau para guru khususnya guru BK untuk memperhatikan anak didiknya. (TS)

Post : 25 Agustus 2014 15:41:13, Read : 795


Terkait